Belajar dari Kegagalan

Photo by James Qualtrough 🇮🇲 on Unsplash

-Bismillaahirrahmaanirrahiim- 


Begitu banyak buku-buku biografi yang bercerita tentang kesuksesan seseorang. Peminat dari buku ini pun tidak sedikit.

Kita manusia sepertinya memang suka sekali mendengar kisah orang-orang sukses. Takjub mendengarnya, lalu biasanya kita jadi penasaran dengan cara sosok-sosok hebat itu bisa meraih pencapaiannya. "Bagaimana bisa? Apa rahasianya?"
Tidak jarang pula, kita jadi ikut terinspirasi.

Tidak ada yang salah dengan hal tersebut.
Namun tentu kita tahu bahwa hidup bukan hanya tentang kesuksesan demi kesuksesan.
Tapi juga ada episode yang bernama kesalahan, ketidakberhasilan, alias kegagalan.

Maka sebagaimana kita mencari inspirasi dari keberhasilan orang lain, tidakkah kita juga berusaha menemukan "inspirasi cara" untuk menyikapi kesalahan dalam sebuah episode hidup?


Dalam Riyaadush Shalihiin terdapat sebuah hadits yang sangat panjang, menceritakan tentang kisah "kesalahan" seseorang.
Dialah, Ka'ab bin Malik radhiyallahu 'anhu. Beliau dan dua sahabatnya yang lain pernah melakukan suatu kesalahan. Karenanya, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam melarang kaum muslimin berbicara dengan mereka bertiga. Hingga setelah lima puluh dari berlalu, Ka'ab radhiyallahu 'anhu merasa "bumi yang sedemikian luas seakan sempit"* baginya.

Mengapa kisah ini jadi begitu penting untuk dibaca dan dipelajari?
Sebab, dari Ka'ab bin Malik radhiyallahu 'anhu, kita dapat belajar cara untuk menyikapi sebuah kesalahan.
Ya. "Kesalahan", "kegagalan", hal yang begitu dekat dengan kehidupan kita sebagai manusia.
Yang jika kita tak memahami bagaimana merespon kesalahan demi kesalahan itu, tak jarang keterpurukan yang hadir setelahnya, sehingga kita justru semakin terjerembab dalam masalah yang jauh lebih dalam.


Dari kisah Ka'ab bin Malik radhiyallahu 'anhu, kita tahu bahwa kita tak sendiri.

Bahwa masih ada harapan untuk kita.

"Mereka pun bisa berdiri kembali atas pertolongan Allah."


Dan agar kita tak pernah berputus asa dari Rahmat Allah.



-Sekian-


Catatan Kaki
*Matan dan Terjemah Riyadush Shaalihiin karya Imam An-Nawawi rahimahullah, Bab 2, Hadits ke 21. Penerbit Pustaka Al-Ihsan.
Untuk kisah selengkapnya dapat disimak dalam rangkaian video kajian berikut (bagian ke 43 sampai 58)