![]() |
Photo by Martin Widenka on Unsplash |
Bismillahirrahmanirrahim..
Seringkali kita mendengar sebuah ungkapan, "Anak muda harus berperan!"
Masa muda memang punya segudang keistimewaan tersendiri; waktu luang yang banyak, fisik yang masih kuat, ingatan yang masih tajam, dan berbagai kelebihan lainnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mewanti-wanti ummatnya agar tidak melalaikan masa muda. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok, 4: 341. Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, dikutip dari https://rumaysho.com/12200-waktu-muda-yang-sia-sia.html)
Maka hendaknya seseorang, selagi muda, mengambil peran dalam kehidupan agar ia bisa menjadi manusia yang bermanfaat dan menjadi sebaik-baik manusia.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289, dikutip dari https://muslimah.or.id/6435-pribadi-yang-bermanfaat.html)
Meski tentu saja sebagai seorang muslim yang berusaha teguh berada di atas satu jalan yang lurus, kita tak bisa menyenangkan hati semua orang. Mendapatkan ridha seluruh manusia adalah hal yang tidak mungkin, demikian kata para ulama kita. Jika ada pihak yang merasa mendapatkan manfaat dari kita, di sisi lain pasti akan ada saja yang terganggu. Sebab kita berperan tak lain dan tak bukan adalah untuk mendapatkan ridha Allah Ta'ala, bukan untuk ridha manusia.
Demikianlah, ketika mengambil sebuah peran, ada konsekuensi yang mau tak mau selalu menyertai setiap pilihan. Konsekuensi itu berupa kewajiban dan tugas-tugas yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta'ala, atau seperti yang telah kita bahas tadi; ada yang menerima, ada juga yang menolak kita.
Lalu, bagaimana anak muda beperan? Apa langkah pertama yang harus diambil agar bisa berperan?
Jawabannya insyaAllah dapat kita temukan dalam seri kajian Riyadush Shalihin yang disampaikan oleh Ustadzuna Muhammad Nuzul Dzikri hafizhahullah berikut. Kajian ini membahas tentang kisah seorang pemuda yang atas izin Allah, mampu membuat puluhan ribuan manusia teguh di atas tauhid.
Semoga Allah memberikan kita pertolongan dan kemudahan untuk dapat belajar darinya.
ANAK MUDA BERPERAN, BUKAN BAPERAN | Riyaadhushshaalihiin