Mengeluh

Photo by Jake Givens on Unsplash

-Bismillah-

Terkadang, kita lupa siapa diri kita.
Ketika kita mudah sekali mengeluh,
Mendapatkan A, mengeluhkan banyak kekurangannya, lalu berharap mendapatkan B. Ketika sudah mendapatkan B, mengeluh lagi.

Seakan-akan, apapun yang menimpa, ada saja keluhannya.
Seakan-akan, apa saja yang didapat, membuat hati sedih saja pada akhirnya.

Terkadang, kita tidak sadar saat melakukannya.

Padahal, sikap tersebut sangat berlawanan dengan seorang mukmin.
Mukmin yang dalam hadits, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan tentangnya:


عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999 -https://rumaysho.com/12985-ajaibnya-keadaan-seorang-mukmin.html)

Sudahkah kita merespon setiap kebahagiaan dengan syukur dan merespon setiap kesulitan dengan sabar?
Sehingga kita termasuk ke dalam orang-orang yang "seluruh urusannya baik"
Sehingga kita layak disebut sebagai "mukmin" yang setiap keadaannya selalu menakjubkan...

Atau,

Masihkah kita akan merespon semuanya dengan keluhan demi keluhan?


***